ASAL MULA CINCIN KAWIN | 0857 8115 8585 (Wa)

http://www.pabrikcincinnikah.com | Cincin Kawin, Cincin Kawin Emas Putih, Cincin Kawin Berlian, Cincin Kawin Emas, Cincin Kawin Palladium, Cincin Kawin Unik, Cincin Kawin Emas Kuning, Cincin Kawin Muslim, Model Cincin Kawin Terbaru, Harga Cincin Kawin Emas Putih, Cincin Kawin Emas, Cincin Kawin Emas Putih, Cincin Kawin Berlian, Cincin Kawin Palladium, Contoh Cincin Kawin.

cincin kawin
cincin kawin

 

Cincin kawin merupakan simbol bersatunya dua manusia di dalam sebuah lembaga pernikahan yang laksanakan secara sakral. Akan tetapi anda pasti belom tahu kenapa harus cincin kawin yang di jadikan simbol dalam pernikahan, kenapa tidak baju, kain, atau barang antik lainnya? Ide dari siapakah yang mengawali munculnya cincin kawin?

CINCIN KAWIN MENURUT WIKIPEDIA

Cincin kawin merupakan salah satu simbol di dalam pernikahan menurut tradisi Kristen Barat. Pertukaran cincin kawin di dalam prosesi pernikahan dilakukan pada saat pengucapan komitmen kedua mempelai untuk menjalani kehidupan bersama. Meskipun demikian, cincin pernikahan bukanlah simbol utama sebab yang terpenting adalah pengucapan komitmen antara kedua mempelai tersebut.  Pertukaran cincin pernikahan tersebut adalah simbol sekunder yang boleh ditiadakan.

 

CINCIN KAWIN DARI ABAD KE-1 SAMPAI HINGGA ABAD KE -9

Pemberian cincin semula berasal dari upacara pertunangan Romawi sejak abad pertama Masehi. Upacara pertunangan tersebut berisi pernyataan tentang janji untuk menikah pada masa depan. Pada masa itu, keterlibatan tradisi setempat masih kuat di dalam kekristenan yang tengah berkembang sehingga banyak unsur-unsur tradisi setempat yang masuk ke dalam ritus pernikahan Kristen. Salah satu unsur tradisi Romawi yang masuk ke dalam ritus pernikahan Kristen adalah prosesi pertukaran cincin kawin. Di dalam suatu garis besar tata pernikahan yang dibuat gereja pada abad ke-9, prosesi pemasangan cincin dalam pernikahan telah tercantum di dalamnya.

 

CINCIN KAWIN DARI ABAD KE-10 SAMPAI HINGGA ABAD KE 11

Di dalam abad ke-10 dan ke-11 terdapat penambahan di dalam prosesi pemasangan cincin, yaitu pemasangan cincin disertai dengan pemberian berkat pada cincin.  Mempelai pria memasangkan cincin kepada mempelai wanita seraya berkata,”Dia (menyebutkan nama mempelai perempuan) yang mengenakan cincin ini boleh berada di dalam damai, kehidupan, bertumbuh di dalam kasih, dan dikaruniakan umur panjang.”  Dengan demikian seolah-olah cincin memiliki makna dalam pernikahan sebagaimana konsekrasi roti dan anggur dalam Ekaristi.

Gereja-gereja Ortodoks Timur mempertahankan prosesi pertukaran cincin kawin, seperti pertukaran janji dan cincin di ruang depan.  Dengan demikian, jikalau pada abad ke-10 dan ke-11 cincin menjadi simbol berkat, maka pada gereja-gereja Ortodoks Timur, cincin menjadi simbol ikatan kedua mempelai melalui janji pernikahan.

 

CINCIN KAWIN DARI ABAD KE-16 HINGGA SEKARANG

Pada masa Reformasi Gereja, muncul rumusan lain yang berasal dari Martin Luther, yaitu “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia”. Ibadah pernikahan di gereja-gereja Protestan Indonesia hingga kini sebagian besar memakai rumusan ini atau yang serupa dengan ini.

cincin nikah unik
cincin nikah unik

Walaupun cincin banyak digunakan dalam liturgi pernikahan, namun bukan berarti semua gereja menyetujui penggunaan cincin dalam liturgi pernikahan. Kaum Puritan pada abad ke-17 menolak penggunaan cincin nikah. Mereka keberatan terhadap prosesi pertukaran cincin, dan juga unsur-unsur lain di dalam ibadah, sehingga menghilangkan prosesi tersebut dari ibadah pernikahan. Akan tetapi, sebagian besar unsur-unsur tersebut dipulihkan kembali pada tahun-tahun berikutnya. Keberatan tersebut wajar mengingat tujuan mereka adalah “memurnikan” Gereja Inggris pada saat itu dengan cara menyingkirkan segala hal yang berbau Romawi. Pada abad ke-18, John Wesley juga menghapus ritus penyerahan mempelai dan pemberian cincin. Akan tetapi, para penerus John Wesley memulihkan kedua ritus tersebut.

 

FUNGSI CINCIN KAWIN SEBAGAI SIMBOLIK

Simbol berfungsi menghadirkan masa lalu pada masa kini. Dengan demikian, melalui cincin kawin pasangan suami-istri dapat mengingat cinta yang terjalin dan makna pernikahan yang telah mereka jalani. Cincin kawin tidak menjamin cinta dan kesetiaan suami-istri, namun cincin pernikahan menjadi simbol yang senantiasa mengingatkan dan membahasakan kerinduan mereka untuk selalu memperdalam cinta kepada pasangannya. Secara populer ada makna-makna lain yang diberikan kepada cincin kawin, misalnya sebagai penanda akan status pemakainya selaku suami-istri, atau perlambang ikatan pernikahan yang tiada akhirnya seperti bentuk cincin yang bulat dan tak berujung.

Seorang perancang busana pernikahan menyebutkan dalam bukunya  Wedding Inspiration, ide awal cincin kawin berasal sejak manusia tinggal di dalam gua. Konon, di zaman itu, para pria akan melingkarkan jalinan rumput, kulit, tulang, bahkan gading pada kaki sang istri, kegiatan ini dipercaya bisa mengikat roh sang wanita.

Kemudian bangsa Mesir mulai menggunakan cincin yang dilingkarkan di jari, kemudian disempurnakan oleh bangsa Yahudi yang menggunakan emas polos sebagai cincin kawin. Semakin berkembang, barulah Archduke Maximillian dari Austria menggunakan berlian sebagai tanda ikatan pertunangan dengan Mary of Burgundy, pada tahun 1477, dan menjadi sangat populer di kalangan pasangan pengantin hingga sekarang.

Mengapa cincin? Konon karena bentuk cincin yang melingkar sempurna menyimbolkan cinta yang tak berujung, tak berawal, dan tak berakhir. Sementara warna emas, yang sering digunakan, merupakan simbol cinta yang tak lekang dimakan waktu, abadi, suci, dan kuat.

Saat mencari cincin kawin, Tina Andrean menyarankan untuk Anda memerhatikan 3 hal, yakni; karat dan kejernihan, bentuk, dan potongan juga warna. Untuk penentuan karat dan kejernihan, sebaiknya Anda memerhatikan seksama kualitas batu mulia yang digunakan. Ukuran dan bentuk batu mulia yang digunakan pada cincin akan mempengaruhi kejernihannya. Berlian berbentuk bulat adalah bentuk yang paling populer. Sebagai alternatif, bentuk geometris lain bisa dipilih untuk memberi kesan fashionable. Potongan batu mulia yang tepat akan membuat cincin nikah berkilau indah. Semakin jernih dan putih warnanya, makin tinggi nilainya.

Sebelum membeli cincin kawin, pertimbangkan ukuran dan gaya yang diinginkan oleh Anda dan pasangan. Sesuaikan dengan dana Anda. Jangan lupa untuk berkonsultasi dengan ahli perhiasan untuk memastikan cincin kawin yang Anda beli adalah yang berkualitas. Saat ini cincin kawin tak lagi harus selalu berwarna emas kuning. Banyak pasangan yang menggunakan emas putih, gradasi warna emas, seperti hijau atau kekuningan.

sepasang cincin kawin
sepasang cincin kawin
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s